Geologi dari sebuah pengantar

Spektakuler energi dari vulkanik (gunungapi), teror yang dibawa oleh gempa bumi, pemandangan yang megah dari lembah gunung, kerusakan yang ditimbulkan oleh “landslide” (tanah longsor); semuanya merupakan subyek untuk ahli geologi. Studi geologi berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan yang praktis dan menarik tentang lingkungan fisik kita.

Geologi secara lateral berarti “studi tentang bumi”. Ilmu geologi secara tradisional terbagi dalam 2 bagian besar, yaitu fisik dan sejarah geologi. Geologi fisik menguji (menganalisa) material-material yang menyusun bumi dan mencoba untuk mengerti proses-proses yang terjadi di bawah dan di atas permukaannya. Geologi sejarah adalah untuk memahami asal mula jadi bumi dan perkembangannya sejalan dengan waktu. Jadi menjelaskan hubungan secara kronologi dari perubahan-perubahan perilaku fisik dan biologi yang muncul dalam waktu geologi yang lalu.

 

Beberapa Catatan Sejarah Tentang Geologi

Keadaan dari bumi kita, materialnya dan proses-prosesnya, telah menjadi pusat studi selama berabad-abad. Topik-topik yang jadi perhatian seperti fosil, batu mulia, gempa bumi dan data vulkanik telah dipelajari di Yunani lebih dari 2300 tahun yang lalu. Pelopor filosofi yang paling berpengaruh adalah Aristoteles.

Beliau percaya bahwa batuan dibuat di bawah pengaruh dari bintang, dan gempa bumi muncul pada saat udara terkumpul ke dalam tanah dan dipanasi oleh panas pusat (sentra) dan keluar secara ledakan. Kemudian oleh Frank D. Adams mengatakan dalam “Geological Sciences” (New York : Devor, 1938) bahwa : “Selama masa-masa pertengahan Aristoteles dihormati sebagai kepala dan pimpinan dari semua filosof; yang pendapatnya pada subyek apapun merupakan hukum dan hasil akhir”.

 

Katastrofisme

Selama abad 17 dan 18, “Katastrofisme” sangat kuat berpengaruh pada permulasi dan dari penjelasan tentang kedinamisan dari bumi. Secara bebas dikatakan bahwa bentuk permukaan bumi telah berkembang dengan pengaruh utama “katastrof”. Kenampakkan seperti pegunungan, lembah yang saat ini kita lihat membutuhkan periode waktu yang sangat lama dalam pembentukkannya, dijelaskan telah terbentuk sebagai akibat perusakkan tiba-tiba dan selalu dari bumi yang lain karena sebab-sebab yang tak diketahui yang tak lagi berlaku. Filosofi ini berusaha mencocokan rata-rata dari proses-proses di dalam bumi terhadap ide-ide yang muncul tentang umur dari bumi. Archibishop James Usshen, Sarjana Alkitab, menyimpulkan bahwa bumi menghampiri 6000 tahun dan telah terbentuk pada tahun 4004 SM.

Hubungan antara katastrofisme dan umur dari bumi telah disimpulkan sebagai berikut : “Bahwa bumi telah mengalami petualangan kejadian yang mendebarkan dan telah dilihat banyak perubahan selama masa lalunya yang tak pasti”.

 

Lahirnya Geologi Modern

Akhir abad 18 merupakan permulaan dari Geologi Modern. James Hutton, fisikawan berbangsa Scot mempublikasikan “Teori Bumi” yang dikenal prinsip “Uniformitarisma”.

Uniformitarisma merupakan konsep dasar dalam Geologi modern. Secara ringkas dikatakan bahwa hukum fisika, kimia dan biologi yang dioperasikan hari ini juga berlaku dalam waktu lampau geologi, ini umumnya dikatakan “Masa kini adalah kunci masa lalu”. (The present is the key to the past)

Charles Lyell (1830-1872) memproduksi 11 edisi dari hasil pekerjaan besarnya, antara lain : Principles of Geology (Prinsip-prinsip geologi), buku ini memiliki subjudul yang agak panjang yang menampakkan tema utama dari pekerjaannya : “berusaha menjelaskan perubahan-perubahan lebih lanjut dari permukaan bumi, dengan refrensi dari sebab-sebab yang berlaku sekarang”. Beliau mengilustrasikan konsep-konsep kesamaan dari alam sesuai dengan waktu. Beliau dapat memperlihatkan secara meyakinkan lebih meyakinkan dari pendahulunya bahwa proses-proses Geologi yang dapat diamati sekarang dapat disimpulkan berlaku juga pada masa lalu. Walaupun doktrin uniformitarisma tidak dimulai dengan Lyell, dia adalah orang yang lebih sukses dalam menginterpretasi dan mempublikasikan pada masyarakat luas.

Mengabaikan kepentingan dalam Geologi modern, doktrin uniformitarisma janganlah diambil secara literal (harafiah). Untuk mengatakan bahwa proses Geologi dimasa yang lalu sama seperti yang muncul saat ini tidaklah untuk menyarankan bahwa kesemuanya itu selalu pada keadaan yang persis sama keadaanya tak diragukan lagi sangat bervariasi selama waktu geologi.

 

Kenampakan Bumi

Kenampakan bumi yang seperti terlihat oleh Astronout Apollo VIII pada saat pesawat angkasanya datang dari belakang bulan setelah memutarinya pada pertama kali dalam bulan Desember 1968. Untuk pertama kalinya kita melihat bumi dikedalaman angkasa sebagai sebuah bentuk yang kecil, ellips yang muncul seperti benda yang mudah rapuh yang dikelilingi oleh kekelaman dari sebuah alam raya (angkasa) yang universal. Kenampakan yang tidak hanya spektakular yang belum pernah dialami bahwa alangkah kecilnya bagian bumi di alam semesta ini.

Jika kita melihat lebih dekat pada planet menyolok bukanlah kontinennya, tetapi awan yang berputar yang tersuspensi di atas permukaannya dan lautan yang sangat luas. Dari posisi yang menguntungkan, kita dapat mengapresiasikan mengapa lingkungan fisik bumi secara tradisional terbagi ke dalam 3 bagian utama : bungkusan udara disebut atmosfera, hidrosfera atau porsi air dari planet kita dan tentunya bumi yang padat. Bumi kita adalah sebuah planet yang dinamis yang tidak hanya didominasi oleh batua, air dan udara saja. Melainkan dicirikan oleh interaksi yang menerus pada saat udara mengadakan kontak dengan batuan, batuan dengan air, air dengan udara.

Atmosfera merupakan selimut yang memberi kehidupan bagi bumi, sebagai udara yang mempunyai tebal ratusan km, adalah bagian integral dari planet. Tidaklah hanya menghasilkan udara yang kita hirup untuk bernapas, tetapi juga melindungi kita dari matahari dan dari radiasi yang berbahaya. Perubahan energi yang muncul secara menerus atau atmosfera dengan permukaan bumi dan antara atmosfera dengan ruang angkasa yang menghasilkan efek yang disebut cuaca atau iklim.

Hidrosfera adalah massa dinamis dari cairan yang terus menerus bergerak, dari lautan ke udara, ke tanah dan kembali lagi. Larutan global merupakan kenampakan penting yang nyata dari hidrosfera, menyelubungi 71 % dari permukaan bumi dan terhitung sekitar 97 % dari jumlah air. Bagaimanapun, hidrosfera juga termasuk air tawar yang ditemukan di sungai-sungai, danau dan glasier, sebanyak yang terdapat di dalam tanah. Walaupun sumber-sumber yang terakhir ini hanya mengkonstitusikan fraksi yang sederhana dari keseluruhan, tetapi tetaplah lebih penting mengakibatkan dalam memahat dan membentuk bentangalam yang bervariasi dari planet kita.

Terletak di bawah atmosfera dan lautan adalah bumi yang padat, lebih dari pada sebuah badan yang homogen. Sebagian dari bumi terdiri dari cangkang atau bentukkan yang disusun oleh material yang dengan sifat yang berbeda. Pembagian prinsip dari bumi terdiri dari :

1. Inti dalam, zona yang kaya akan Fe dengan jari-jari 1216 km (756 mil).

2. Inti luar, lapisan campuran logam setebal 2270 km (1410 mil).

3. Mantel, lapisan batuan padat yang memiliki tebal maksimum 2885 km (1789 mil).

4. Kerak bumi, bagian kulit luar yang relatif lebih ringan yang tebal berkisar dari 5 – 40 km (3 – 25 mil).

Zona yang sangat penting terdapat di dalam mantel dan perlu diperhatikan khusus. Zona ini disebut astenosfera, yang bertempat dikedalaman yang mendekati 100 – 700 km. Astenosfera adalah zona lemah yang panas yang dapat mengalir secara bertahap. Berada di atas astenosfera, ahli geologi mengenal zona yang disebut litosfera yang termasuk kerak bumi dan mantel paling atas. Berlawanan dengan asfenosfera, maka litosfera bersifat dingin dan keras.

 

Bumi Yang Dinamis

Bumi merupakan planet yang senantiasa berubah/dinamis. Jika kita dapat kembali ke waktu miliyaran tahun atau lebih, kita akan mendapatkan suatu planet yang permukaannya berbeda secara dramatis dengan yang ada sekarang. Seperti pemandangan yang sangat terkenal; Grand Canyon, Rocky Mountain, dan bahkan Gunung Appalachian yang berumur lebih tua, tidak ada. Kita akan menemukan benua yang mempunyai bentuk yang berbeda dan terletak pada posisi yang berbeda dari sekarang. Pada sisi lain, milyaran tahun lalu, permukaan bulan hampir sama seperti yang kita temukan saat ini. Kenyataannya, jika kenampakan bulan dilihat melalui teleskop dari bumi, kemungkinan hanya sedikit bagian yang hilang.

Proses-proses yang terjadi di permukaan bumi dapat dibagi menjadi dua kategori. Kekuatan yang bekerja pada permukaan bumi tersebut terdiri atas pelapukan dan erosi. Tidak seperti bulan, pelapukan dan erosi selalu bekerja secara perlahan dan tak terbatas, proses ini mengubah secara terus menerus roman muka bumi. Terdapat diantara proses konstruksional adalah vulkanisme dan pembentukan pegunungan, yang mana meningkatkan elevasi rata-rata dari permukaan bumi yang berlawanan dengan grafitasi. Seperti yang seharusnya kita lihat, kekuatan ini tergantung pada panas di dalam bumi sebagai sumber energinya.

Pada beberapa dekade terakhir, kesepakatan yang besar telah dipelajari mengenai kerja dari planet dinamis ini. Pada kenyataannya, banyak disebut periode ini suatu revolusi dalam pengetahuan kita tentang bumi yang tidak sama setiap waktu. Revolusi ini dimulai pada awal abad ke 20 dengan usulan yang radikal bahwa kontinen telah terbetuk disekitar muka bumi. Hal ini telah diterima secara skeptis. Lebih dari 50 tahun lalu dimana belum cukup data yang dikumpulkan untuk mentransformasi “relatively simple hypothesis” ini ke dalam suatu teori pekerjaan bersama proses dasar yang diketahui bekerja di atas bumi. Teori tersebut akhirnya muncul, disebut “Plate Tectonics” atau tektonik lempeng. Tektonik adalah suatu studi tentang deformasi lithosphere bumi pada skala besar yang hasilnya pada formasi struktur mayor yang berassosiasi dengan pegunungan.

Menurut model tektonik lempeng, bagian terluar bumi yang keras, lithosphere, hancur menjadi beberapa bagian tersendiri yang disebut “plate” atau lempeng. Pemikiran lebih lanjut mengenai hal ini bahwa lempeng yang keras ini bergerak lambat tetapi kontinu. Pergerakan ini dipercaya digerakkan oleh mesin panas (thermal engine), hasil dari suatu distribusi panas yang tidak sama di dalam bumi. Sebagai material panas yang berasal dari kedalaman di dalam bumi dan menyebar secara lateral, lempeng tersebut terkumpul dalam suatu gerakan. Yang terpenting, pergerakan lempeng lithosphere bumi ini menghasilkan gempa bumi, aktivitas vulkanik, dan deformasi massa batuan yang besar menjadi pegunungan.

Karena setiap lempeng bergerak sebagai suatu unit yang berbeda, semua interaksi diantara lempeng terjadi sepanjang batas-batasnya. Pendekatan pertama dari batas-batas lempeng yang dibuat/dibentuk pada basis gempa bumi dan aktifitas vulkanik. Kerja terakhir mengindikasikan eksistensi tiga tipe yang berbeda dari batas lempeng, yang dibedakan oleh kenampakan arah pergerakannya. Ketiga tipe tersebut adalah:

 

1. Divergent

Zona dimana lempeng bergerak sebagian, meninggalkan suatu gap diantara lempeng tersebut.

 

2. Convergent

Zona dimana lempeng bergerak bersama-sama, menyebabkan yang satu bergerak di bawah yang lainnya, seperti yang terjadi ketika kerak samudera bertabrakan.

 

3. Transform fault

Zona dimana lempeng saling bergesekan diantara satu dengan lainnya, yang akan menghasilkan kehancuran di sepanjang zona pergeseran tersebut.

Setiap lempeng dibatasi oleh suatu kombinasi dari zona-zona ini. Pemekaran lempeng dipercaya terjadi pada “oceanic ridge” atau punggung samudera. Seperti pemisahan lempeng, suatu gap terbentuk dan terisi batuan secara langsung yang bergerak ke atas yang berasal dari astenosphere yang panas. Material ini mendingin secara perlahan yang kemudian menjadi cekungan samudera yang baru. Rangkaian pemekaran dan pengisian yang berlanjut menghasilkan lithosphere samudera yang baru diantara lempeng yang bergerak memisah. Mekanisme ini telah menghasilkan Cekungan Samudera Atlantik. Selama 200 juta tahun yang lampau, yang secara tepat disebut pemekaran lantai samudera ini diperkirakan bergerak sekitar 5 cm (2 inch) setiap tahun, meskipun terdapat beragam kondisi dari lokasi yang satu terhadap lainnya.

Meskipun lapisan terluar bumi yang keras terbentuk pada punggung samudera secara konstan, total daerah permukaan bumi adalah tetap. Zona lempeng yang saling bertabrakan merupakan tempat terjadinya proses destruktif. Dua lempeng yang bergerak bersama-sama saling mendekati, lempeng yang satu akan menunjam ke bawah, berada di bawah lempeng yang lainnya. Kapan pun lithosphere kontinen dan samudera bertabrakan, hal ini akan selalu menyebabkan material samudera yang lebih padat masuk ke dalam asthenosphere yang lemah, yang berada di bawahnya.

Batas lainnya, direpresentasikan oleh ‘transform fault’ atau patahan mendatar, yang terletak dimana lempeng saling bergesekan tanpa menghasilkan atau menghancurkan kerak bumi. Bentuk patahan ini searah dengan pergerakan lempeng dan pertama ditemukan pada suatu set punggung samudera. Walaupun kebanyakan ‘transform fault’ terletak di dalam cekungan samudera, beberapa patahan ini melalui kontinen.

Penemuan saat ini menyatakan bahwa interaksi lempeng sepanjang batas-batasnya kebanyakan ditandai dengan vulkanisme, gempa bumi, dan pembentukan gunung. Batas-batas tersebut tidak konstan sepanjang waktu. Sepanjang kedalaman temperatur di dalam bumi secara signifikan lebih tinggi dari pada yang dekat permukaan, material masuk ke dalam bumi akan selalu kontinu bergerak. Aliran di dalam tersebut, berputar, akan menjaga kulit terluar bumi yang padat selalub bergerak. Dengan demikian, sepanjang mesin yang panas di dalam bumi bekerja, posisi dan bentuk kontinen dan cekungan samudera akan berubah dan bumi akan menjadi suatu planet yang dinamis.

 

KORUPSI ADALAH MILIK KITA (Bagian II)

Sebenarnya kalau kita selalu mengatakan “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar” itu denotatif atau konotatif?

Ketangguhan Yang “Mencelakakan”

Baiklah. Kalaupun Bangsa Indonesia sekarang tak perlu sampai memerlukan penglihatan diri sejauh ini, semoga sedikit berinisiatif pada takaran normal saja sebagai manusia, sebagai masyarakat dan sebagai bangsa – untuk memulai kemandirian, punya instink untuk ketat menjaga martabatnya, untuk mulai percaya kepada dirinya dan kepada apa yang sebenarnya bisa digapainya.

Kalau bangsa Indonesia tidak percaya bahwa ia besar, bahwa ia lebih induk dan lebih besar dari bangsa-bangsa di dunia, serta tidak percaya bahwa sesungguhnya ia punya filosofi, formula, teknologi, budaya dan mekanisme kepemimpinan atas dunia secara lebih damai, hangat dan penuh toleransi (masyarakat kita aslinya adalah Professor Doktor Toleransi dengan tesis empiris cum laude) – maka mudah-mudahan ada sedikit inisiatif kecerahan diri mengupayakan agar 2009 tidak menjadi “Perayaan Kebodohan Edisi kesekian”, 2012 mencoba memastikan ada sejumlah klausul kenegaraan dan hak milik yang membuat kita tidak lebih parah menjadi budak bangsa lain, serta 2015 memproklamasikan “Keselamatan Minimal” sebagaimana layaknya manusia hidup normal standard tanpa keunggulan dan kehebatan.

Kalau flash-back di atas suatu hari dipelajari dan direnungi, mungkin kesibukan berpikir keIndonesiaan kita sehari-hari mengandung kadar pengetahuan dan substansi yang sedikit agak fenomenologis dan paradigmatik. Kita bersabar dengan ilmu, dan menahan diri tidak bicara atau bertindak apapun kalau tidak dilandasi tanggungjawab ilmu. Bahkan yang membedakan keyakinan (iman) dengan khayalan (klenik, mitologi, subyektivisme) adalah faktor ilmu.

Misalnya ada pertanyaan: kenapa segala penderitaan rakyat, kebobrokan pemerintahan dan kekacauan keadaan bangsa kita tidak pernah cukup menjadi syarat lahirnya sebuah revolusi yang mendasar, total, dan sungguh-sungguh? Padahal penderitaannya lebih dari sungguh-sungguh, kebobrokannya jauh melebihi ukuran kekebobrokan yang pernah dicatat oleh sejarah kepemimpinan dan pemerintahan, serta kekacauannya sedemikian rupa sehingga tak ada rakyat Negara manapun di muka bumi yang sanggup berada di dalamnya?

Salah satu jawabannya: karena individu manusia Indonesia sangat tangguh, tidak collapse oleh kesengsaraan bagaimanapun juga, bahkan berulangkali sanggup menolong Negara untuk tidak collapse pada keadaan yang secara teoritis dan seharusnya ia collapse.

Dan jawaban khusus untuk lembar acara hari ini adalah: karena bangsa “kita” memiliki tradisi Teknologi Internal yang tidak dimiliki oleh gen-gen bangsa lain. Dan paradigma itulah yang selama ini “mencelakakan” kita.

Norma, Hukum, dan Moral

Tentu saja, bangsa dengan bakal internal-technology di era NKRI sekarang ini tidak bisa sepenuhnya menerapkan keunggulan mentalnya: bagaimana mungkin kita tak punya motor, mobil, rumah bagus, laptop, AC; bagaimana mungkin kita mengelak dari arus besar kemewahan, hedonisme, gebyar dan gemerlap… maka bakat internal-technology akhirnya tak sengaja tergeser dan terterapkan ke wilayah-wilayah lain yang masih mengandung ketidak-majuan dan ketidak-mudahan.

Dengan hasil korupsi, kita memperoleh berbagai kemudahan dan kemajuan: bisa beli apa saja sebagaimana atau melebihi orang lain, keluarga menganggap kita sukses, Pesantren dan Masjid yang kita bantu menyimpulkan kita adalah dermawan, masyarakat melihat bahwa kita adalah “orang yang benar”: buktinya punya jabatan, kaya, dan mau bersedekah kepada mereka.

Tetapi ada sedikit pengetahuan yang sudah terlanjur nyantol di saraf otak yang membuat ingatan bahwa kita korup itu menghasilkan sesuatu yang tidak enak dalam hati dan tidak mudah di depan Tuhan. Maka tak cukup bantu Pesantren dan Masjid, kita perlu umroh sesering mungkin, langsung melakukan pendekatan kepada Tuhan. Sebenarnya sedikit-sedikit kita merasa juga bahwa Tuhan tersinggung karena kita tuduh ia bisa kita sogok dengan umroh atas dosa korupsi kita – tetapi karena demikianlah juga yang dilakukan oleh banyak teman-teman Indonesia lain, maka kita menjadi sedikit tenang.

Faktornya di sini, budaya kita lebih mengandalkan norma dibanding hukum atau moral. Hukum dan moral itu nilai otonom dan pasti, sedangkan norma itu bergantung kesepakatan atau kebiasaan banyak orang. Kalau banyak orang menyuruh Ahmadiyah bubar dan banyak orang lain mengutuk FPI, kita terdorong untuk memilih salah satu dan kemudian turut mengacungkan tinju dan memekik-mekik.

Itulah norma. Sementara hukum itu “ilmu”, moral itu “ruh”. Mereka yang hidup berdasar moral dan hukum, tidak melangkahkan kaki berdasarkan arus norma atau kecenderungan orang banyak.

Alif Lam Mim, tuhan kita adalah norma. Kita lakukan apa saja yang nge-trend, yakni segala gejala dan perilaku yang diterima dan dikerjakan oleh orang banyak. Dari mode rambut, sinetron religi bulan Ramadlan, demokrasi, otda pilkada, syariat non-gender, darmawisata umroh, wisata kuliner hingga membubarkan Ahmadiyah dan FPI. Untuk bayar pajak saja kita perlu alasan “Apa Kata Dunia, hare gene…”Multikorupsi.

Dulu Suharto bikin Keraton Kemusu, sempalan Nyayogyakartohadiningrat dari tiga generasi sebelum yang sekarang. Keratonnya dikasih nama Republik, baju kebesarannya sebagai Raja dikasih label Presiden, dengan “uborampe” (kelengkapan basa-basi) mengumpulkan sekian ratus orang menjadi dua kelompok yang dikasih papan nama “MPR” dan “DPR”, dan akhirnya hanya seorang Raja yang jauh-jauh hari sudah merancang dan membangun makamnya di sebuah bukit.

Kepresidenan Suharto adalah konotasi, karena denotasinya adalah Keraton.

Masyarakat tidak keberatan dengan “Keraton” berlabel “Republik” itu karena jiwa raga mereka adalah “abdi dalem” dan “kawulo” sampai hari ini. Dan sampai hari ini kaum intelektual juga tidak pernah mengakui bahwa Orba adalah  “Keraton”,  karena diam-diam di dalam kandungan mentalnya masih menyimpan rasa “andhap asor” atau inferioritas “kawulo”, masih menyimpan mitologi subyektif untuk “takut” atau “segan”, juga karena sejak semula mereka juga diam-diam berikhtiar bagaimana menjadi “abdi dalem”. Kalau Sang Prabu Haryo Suharto tidak menerima lamaran kita, baru kita tampil di media massa sebagai oposan.

Alhasil, view ini sekadar pintu awal untuk membuka kemungkinan besar kenyataan yang perlu kita teliti dengan jujur bahwa kasus-kasus korupsi yang dijaring KPK hanyalah sejumlah cipratan kecil dari budaya dan peradaban  korupsi. Bangsa kita terjebak dalam kesalahan manajemen sejarah yang menggiring mereka melakukan korupsi sejak “dini”. Sebelum uang dan harta Negara, kita sudah melakukan korupsi iman, ilmu, cara berpikir, sejatinya isi hati, setiap jenis perilaku dari yang sehari-hari kultural sampai yang kenegaraan dalam konstitusi dan birokrasi.

Apa yang saya tulis ini bukan tuduhan, juga saya harap tidak menambah persoalan. Ini sumbangan kewaspadaan, demi kebangkitan atau totalnya kehancuran kita bersama. Tiap menjelang tidur, ambil satu kata kerja: lihatlah seberapa “sungguh-sungguh” bangsa kita mengerjakan dan memaksudkan “kata kerja” itu. Apakah kalau kita bilang “a” maka yang kita kerjakan adalah “a”, dan kalaupun memang benar-benar kita kerjakan “a”, apakah niat dan maksud kita sungguh-sungguh “a”. Itu boleh pada perilaku sehari-hari, hingga urusan-urusan yang lebih besar: menjadi pejabat, menjadi wakil rakyat, menjadi Ustadz, menjadi Presiden, mengambil suatu keputusan nasional, dan apapun.

Kunci kehancuran kita sangat boleh jadi adalah: tidak atau kurang bersungguh-sungguh.

KORUPSI ADALAH MILIK KITA (Bagian I)


Dari Dunia Sufi,
oleh EMHA AINUN NAJIB

Sangat tidak mudah mengambil keputusan apakah korupsi adalah milik para koruptor ataukah milik kita bersama. Juga tidak gampang mengukur kadarnya sebagai “penyakit sistem” (struktural), sebagai “penyakit manusia”, atau “penyakit budaya” suatu masyarakat yang berada dalam sistem yang sama. Ia sangat cair, seakan-akan merupakan serbuk yang rata menabur, atau bagaikan asap halus yang tak kasat mata, sehingga tidak bisa serta merta bisa disimpulkan bahwa perilaku korupsi adalah semacam anomali atau penyakit khusus yang berlaku pada sejumlah orang, ataukah ia memiliki “infrastruktur” budaya yang memang mendarah daging secara lebih menyeluruh pada kehidupan masyarakat kita.

Darah daging itu bisa jadi tak hanya berskala budaya atau kebudayaan, bisa jadi ia sudah merupakan peradaban. Terutama apabila disepakati bahwa korupsi materiil hanyalah salah satu output “kecil” dari dasar-dasar jiwa korupsi yang juga bisa menemukan manifestasinya pada perilaku lain, pada pola berpikir, cara pandang, cara memahami, cara merasakan, bahkan cara memahami dan melaksanakan iman. Tak pernah berhenti kita bertanya: di kedalaman jiwa manusia, apakah korupsi itu peristiwa mental, peristiwa ilmu, peristiwa akhlak, peristiwa iman, atau apa?

Kalau sudah sampai ke kompleksitas itu, kita yang di panggung berteriak “Wahai Kaum Koruptor…” tidak otomatis kita sendiri bukan koruptor. Atau kekhusyukan seseorang dalam beribadah, status mulia seseorang dalam kegiatan keagamaan, citra bersih seseorang dalam imaji publik – tidak serta merta mengandung arti bahwa yang bersangkutan berada di luar lingkaran, jaringan dan sistem korup. Bahkan kita yang bertugas memberantas korupsi, perlu mengaktifkan terus menerus kewaspadaan diri untuk menjamin bahwa dalam berbagai konteks dan nuansa itu langkah-langkah kita benar-benar bebas dari potensialitas korupsi. Apalagi sejumlah pagar eksternal atau internal yang tak selalu bisa kita atasi membuat langkah-langkah kita tampak di mata orang lain sebagai “tebang pilih”.

Teknologi Eksternal dan Teknologi Internal

Saya ingin menyebut sebuah term: “Teknologi Internal”. Ada jenis manusia atau masyarakat yang kecenderungannya adalah “mengelola dunia luar” dan itu kita sebut “Teknologi Eksternal”. Ada jenis manusia atau masyarakat lain yang lebih sibuk “mengolah dunia dalam” dirinya sendiri: mentalnya, manajemen hatinya, rekayasa berpikir subyektifnya. Itu “teknologi internal”.

Ada hipotesis yang mengindikasikan bahwa “teknologi internal” adalah  semacam tipologi, unikum atau karakteristik kemanusiaan atau budaya masyarakat di wilayah sepanjang Nusantara. Pelan-pelan, berikut ini, mudah-mudahan saya punya kemampuan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya dimaksud dengan “teknologi internal”.

Perkembangan peradaban global abad 20-21 adalah puncak eksplorasi “Teknologi Eksternal”: meneliti, menganalisis, menyimpulkan, mengaplikasikan ke wilayah eksternal segala hal yang membuat kehidupan manusia lebih “maju” dan “mudah”. Muncullah gedung-gedung, pabrik-pabrik, alat-alat di bidang apa saja di wilayah kehidupan yang manapun saja. Tidak hanya transportasi yang ajaib dan dunia maya yang ‘wingit’, tapi bahkan kekhusyukan shalatpun mengandalkan rekayasa teknologi eksternal. Seluruh pemandangan metropolitan Jakarta Raya ini sangat menggambarkan produk “teknologi eksternal”.

Sementara “Teknologi Internal” adalah suatu inisiatif mental, didukung oleh aktivitas emosi dan sedikit intelektual, di mana untuk maju dan mudah, manusia mengandalkan pengaturan, pengolahan, eksplorasi, atau manipulasi mental di dalam dirinya. Untuk makan enak tidak tergantung jenis dan mahalnya makanan, melainkan bergantung pada cara kita menganggap dan memperlakukan makanan apa saja yang ada. Demikian juga berbagai soal lain di luar makanan. Di dalam budaya Jawa ada kata “mupus”: menganggap tak ada sesuatu yang bikin pusing tapi tak pernah bisa diselesaikan. Penderitaan berkepanjangan oleh kemiskinan struktural oleh rakyat cukup dijawab dengan “Gusti Allah mboten sare”. Tuhan tidak tidur.

Puluhan juta keluarga bisa hidup tanpa rasionalitas ekonomi, gaji tak cukup untuk makan keluarga tapi kredit motor, tak ada kerjaan tapi merokok sambil main catur, kalau ditanya bagaimana makan minum keluargamu, mereka menjawab: “Bismillah, Cak”. Ahli Statistik di belahan bumi sebelah manapun tidak pernah mencatat dan makanan utama Bangsa Indonesia adalah bismillah. Dan sesungguhnya apa yang terkandung di balik “bismillah” itu adalah kelonggaran-kelonggaran sistem budaya korupsi di berbagai celah kehidupan yang memungkinkan mereka tetap bisa survive.

Rakyat Indonesia berteriak beberapa hari oleh kenaikan BBM, penjualan asset-asset Negara dan jenis-jenis kebobrokan lain yang dilakukan oleh Pemerintah, kemudian mereka berduka satu dua bulan, akhirnya “mupus”, memproklamasikan “Tuhan tidak tidur”, dan kembali “ubet” lagi, “iguh” lagi: menjalani penghidupan sekeluarganya dengan amat sangat mandiri, tanpa ketergantungan yang signifikan dan tidak perduli-perduli amat kepada parpol apa yang memerintah, Presidennya Bima, Arjuna, Gareng, Bagong, Limbuk, atau Buto Kempung dan Bethoro Kolo….

Sesekali berkhayal: Presiden kita besok harus Puntadewa alias Yudhistira yang berdarah putih, tak punya ambisi, berani kehilangan apapun demi cinta kepada rakyat dan kebenaran sejati. Tetapi kalau di saat fajar ada serangan Rp 20 ribu, ya tak apa bermurah hati mencoblos calon yang menyebar uang itu. Adakah bangsa lain di muka bumi yang tangguh dan cuek-nya melebihi “Bangsa Nusantara”?

Pupusnya Denotasi, Maraknya Konotasi

Salah satu keluaran dari kebiasaan teknologi internal adalah pupusnya denotasi. Manusia dan masyarakat Indonesia hidup dalam konotasi-konotasi: sesuatu tidak dimaksudkan sebagai sesuatu itu sendiri sebagaimana ia adanya. Setiap kata, setiap perbuatan, setiap langkah dan keputusan, setiap jabatan dan fungsi, selalu tidak berkenyataan sebagaimana substansinya, melainkan ada tendensi, pamrih, maksud tersembunyi, “udang dibalik batu” atau apapun namanya — di belakangnya.

Kalau ia berlaku pada denotasi penderitaan dikonotasikan sebagai “tabungan akhirat”, pada “tempe” dianggap “daging”, pada “kegagalan” disebut “sukses yang tertunda”, “kelemahan” disebut “kesabaran”, “kebodohan” dibilang “kerendahan hati”, “kemiskinan” dikonotasikan sebagai “suratan takdir” – maka masih bisa menguntungkan survivalisme para penderitanya. Mereka bertahan hidup berkat kepandaian menciptakan konotasi-konotasi, Pemerintah selalu beruntung karena tingkat kemiskinan dan penderitaan sedahsyat apapun tak mungkin melahirkan pemberontakan total atau revolusi.

Tetapi kalau yang berlaku adalah denotasi “mencuri uang Negara” dikonotasikan sebagai “jasa bagi keluarga”, “korupsi” menjadi “kelapangan peluang untuk kedermawanan sosial”, denotasi merampok dan melacur itu boleh asalkan konotasinya adalah “jihad Agama”, malak pabrik narkoba itu halal asal konotasinya ada prosentase untuk “pembangunan Masjid”, denotasi “uang narkoba” batal demi konotasi “pembelaan Islam” – maka kebenaran, Agama, dan denotasi apapun tak akan mengalami kehancuran – karena satu-satunya yang bisa hancur hanya kehidupan manusia.

Sindroma Garuda-Emprit

Agar supaya kita tidak terlalu “bersedih” atas “kepastian” untuk semakin hancur, perkenankan saya pergi jauh ke belakang sejarah bangsa Indonesia kita.

Untuk itu “iseng-iseng” kita mempertanyakan siapa itu “Bangsa Indonesia”. Dengan asumsi sederhana bahwa kalau orang tak mengenal dirinya, maka ia tak tahu tempatnya, kalau tak tahu tempatnya juga pasti tak mengerti ke mana akan melangkahkan kakinya. Kita berendah hati saja untuk sedikit mengakui bahwa segala keributan dan kebobrokan yang kita alami 10-20 tahun terakhir ini siapa tahu sekadar kasus orang yang memang tak kenal siapa dirinya. Orang yang dirinya saja ia malas mengenalnya, maka agak mustahil ia punya energi untuk mendiagnosis apa penyakit yang sedang dideritanya. Dan kalau tak ada diagnosis yang tepat, mustahil pula ia akan bisa menyembuhkan diri dari penyakitnya.

Mungkin kita ‘terpaksa’ harus melewati sejumlah relativitas pemahaman atas beberapa hal. Misalnya, sebelum “ada” Bangsa Indonesia, ada  “Masyarakat Nusantara”, yang harus diperdebatkan terlebih dulu apakah ia “Rumpun Melayu”, “Masyarakat Jawi”, “Bangsa-bangsa Timur” dst.

Juga sebutan “Jawa” atau “Melayu” berbeda pengertian dan skala faktualnya bergantung satuan waktu yang dipakai: setelah ada NKRI berbeda dengan 5 abad silam, juga berbeda dengan kurun “Ajisaka” 20-an abad silam. Kita harus menunggu puluhan atau ratusan tahun riset antropologis-historis, bahkan penelitian arkeologi dan sejumlah disiplin lain yang lebih mendasar dan akar.

Kita mulai “iseng-iseng” ini dari sejumlah pertanyaan (yang boleh jadi mengandung substansi-substansi yang tidak atau belum “benar”, tapi belum juga bisa dibilang “salah”) misalnya:

Seberapa berbeda “Bangsa Indonesia” dengan “Bangsa Nusantara”?

Kita sebut saja keduanya sebagai “kita”. Pertanyaannya: “kita” ini lahir pada 1945, ataukah “kita” yang melahirkan 1945? Kalau “kita” yang melahirkan NKRI dengan penduduknya yang kita sebut Bangsa Indonesia, maka tentunya “kita”lah juga yang melahirkan Ray Pikatan, Sanjaya, Mataram Kuno, Kutai, Majapahit, Ken Arok, Raden Wijaya, dan Gadjahmada, Borobudur dan paradigma Candi Seribu. Kitalah fosil manusia tertua dalam sejarah umat manusia di dunia di Sragen dan Mojokerto. Kitalah induk manusia (mungkin 6 generasi sesudah Adam) yang merintis peradaban, sebelum dihancurkan oleh era demi era sejarah primordialisme: sejak pewarisan kembali dendam Qabil-Habil, berpuluh-puluh abad hingga primordialisme Quraisy-Baduwi, sampai hari ini ada Suku Ahmadiyah, suku Gus Dur, dan suku Muhaimin.

Dari semua kata itu yang mana denotasi yang mana konotasi?

Yang menguasai keuangan internasional, sistem global dan mekanisme pasar (: Neo-Liberalisme, IMF, Kongress AS, Neomultinational dst) dewasa ini sepertinya hanya sejumlah prosentase sangat kecil (1%?) dari jumlah penduduk dunia – yang seluruhnya adalah keturunan Nabi Ismail dan Nabi Ishaq (kaum konglomerat Arab dan strategi /stakeholders Yahudi) dengan induk Nabi Ibrahim. Sampai-sampai Kaum Muslimin harus mengulang tafsir kenapa dalam bacaan Tahiyat Shalat mereka salam kedamaian tak cukup disampaikan kepada Rasul Muhammad Saw tapi juga shalawat dan berkah kepada Rasul Ibrahim As dan keluarganya.

Kalau omong IMF, mudah menerimanya sebagai denotasi, tapi kalau Ibrahim: asosiasi kita biasanya konotatif.

Adapun “Masyarakat Nusantara” ini keturunan siapa? Bisakah dibilang  keturunan Ibrahim atau bukan keturunan Ibrahim? Apakah atau siapakah induk “gen” bangsa kita ini lebih muda dari Ibrahim ataukah lebih tua? Misalnya Nabi Nuh As, itu orang Yahudi atau Arab, atau Melayu Jawa?

Apakah tersedia energi mental dan intelektual kita untuk mewaspadai denotasi dan konotasi dari pertanyaan itu?

Bangsa Cina dan Bangsa India itu berada pada garis Ishaq atau Ismail atau di luar itu? Masa depan kita di abad 21 ini mencadangkan Cina dan India sebagai “musuh yang pasti” dipandang dari mata dan kepentingan keturunan Ismail-Ishaq — maka pasti harus ada pola strategi jangka pendek menengah dan panjang terhadap “Bangsa Nusantara”: NKRI harus dipastikan bisa dikuasai, ditunggangi, dikendalikan, diatur, dengan terlebih dahulu memastikan bahwa NKRI harus rapuh, terpecah belah, saling benci dan bermusuhan satu sama lain, seperti yang terjadi hari ini. Dengan demikian NKRI akan dipande menjadi Keris Nusantara untuk melawan Cina-India ketika saatnya nanti diperlukan.

Ini semua pertanyaan denotatif atau konotatif?

Kalau umpamanya ternyata “Bangsa Nusantara” ini induknya lebih tua dari Ibrahim, maka mungkin perlu dipertanyakan bahwa segala perangkat kemajuan sejarah yang kita pakai sekarang ini “kulakan” pada klan Ismail-Ishaq, dan itu pasti akan menjadi jebakan-jebakan kultural, psikososial dan politis, yang membuat NKRI makin hari makin bunuh diri. Keadaan bangsa Indonesia saat ini demi Allah tidak memerlukan Neoliberalisme, AS, Iblis dan siapapun dari luar sana untuk hancur: bangsa Indonesia sudah berada pada “peak position” untuk secara amat canggih sanggup menghancurkan dirinya sendiri.

Kok Iblis segala? Pernahkah Iblis dipahami oleh 20 abad peradaban manusia secara denotatif? Ataukah kita sebut-sebut ia setiap saat dalam konotasi semau-mau kita? Anda pikir Iblis ada hubungannya dengan Setan dan Jin?

Kalau dilihat dari posisi-kosmis, kekayaan alam, keunggulan bahasa dan budaya, maka “Bangsa Nusantara” yang sekarang bernukleus di NKRI tidaklah bisa diungguli oleh bangsa manapun di muka bumi. Maka diampuni Allahlah Amangkurat-II yang menyerahkan rakyat dan kedaulatannya kepada VOC, diampuni Allah semua pelaku-pelaku sejarah Indonesia sejak 1945, Orla, Orba, Orde Reformasi, yang dengan sangat cemerlang mampu mengubah “Garuda Perkasa Bangsa Nusantara” hari ini menjadi “Emprit kerdil, cengeng, dan penakut”.

buat apa susah, refleksi kemerdekaan

Teringat syair lagu lawas anak-anak yang hingga kini setiap bibir mungilpun bisa melantumkannya

.. buat apa susah- buat apa susah, susah itu tak ada gunanya.

Gembira, demikian misi yang dibawa syair ini mungkin setelah kepenatan dari kesibukan, kegalauan dari permasalahan yang tak tepecahkan, dari pada susah memikirkan dan kemudian jumud malah menjadikan stress. Ada saatnya kita melepaskannya sehingga fresh dan permasalahan mungkin akan lebih mudah untuk diselesaikan, lebih jernih dan bijak untuk diputuskan.

Kehangatan kebersamaan dan romantisme hidup menjadi kebutuhan setiap orang yang menyatakan dirinya merdeka, tidak ada kekangan dan terpenuhinya hak asasi hidup mereka. Tentunya ada batas-batas etika sesuai dengan lingkungan dimana dia berada. Etika sebagai karyawan, etika sebagai bagian sosial masyrakat, etika sebagai pribadi beragama dan etika-etika lain yang setiap orang harus memahami.

Menjadi pertanyaan mendasar, apakah sesungguhnya manusia itu hamba yang merdeka? atau kalau disebut  merdeka, merdeka semacam apa? Apakah demokrasi dikejawantahkan sebagai simbol kebebasan dan kemerdekaan, sehingga banyak orang mengatakan “demokrasi kita adalah demokrasi yang kebablasan”.

Marilah kita berfikir benar bukan hanya dengan akal tetapi juga dengan hati nurani, apakah yang disebut kemerdekaan hakiki, apakah merdekanya insan adalah merdeka terikat atau merdea bebas.

Manusia atau al_insan adalah hamba Allah, yang diciptakanNya dari air hina melalui suatu proses alami (biologis) mengikuti hukum alam (sunatullah) yang teratur dan rapi hingga dilahirkan menjadi manusia sempurna, dalam bahasa tuhan manusia adalah “sebaik-baiknya makhluk” yang diciptakan. Proses penciptaan yang sempurna ini sudah pasti terikat oleh satu hukum alam yang tidak bebas, kalou bebas maka manusia justru akan berbentuk tidak sempurna seperti yang diharapkan.

Manusia adalah hamba atau abdun, meminjam istilah hamba sahaya atau budak maka manusia sesungguhnya bukanlah makhluk yang bebas, melainkan makhluk yang terikat oleh sang pencipta seperti halnya budak terikat tidak bebas oleh tuannya.

Ketika masyarakat terlingkup dalam institusi negara maka negara membuat peraturan tentang aturan-aturan warga negara, ketika manusia menyatakan diri sebagai hamba Allah maka manusia harus tunduk kepada aturan Allah. Namun Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih aturanNya atau tidak sama sekali, bagi Tuhan tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah seberapa besar kita merasa terikat oleh aturan Allah itu, karena tidak ada hukuman fisik dari Allah didunia ketika aturanNya dilanggar, kecuali aturan itu telah dilembagakan sebagai bagian dari aturan negara. 

Ditengah-tengah masyarakat aturan Allah bukanlah aturan yang mengikat, atau bisa disebut sebagai hukum adat dan berwujud sebagai aturan-aturan normatif, bila seorang muslim tidak berpuasa pada bulan romadlon secara normatif orang ini tidak taat pada agama, seorang yang tidak sholat paling banter hanya mendapat cibiran halus “wong islam kok ra sholat”. Praktis aturan agama hanyalah lebih kepada kesadaran pribadi dari individu-individu yang punya identitas KTP “Islan”.

Bagi Tuhan tidak masalah, dan tidak pernah merasa rugi entah bagaimana polah manusia bebas memilih, cukuplah bagi Tuhan memberi tempat kehormatan untuk mereka yang “TAAT”, “sebaik-baik manusia adalah bagi mereka yang ta’at dan beriman kepada_Ku”.

Sekarang, buat apa kita susah karena tidak ada kesusahan untuk memilih dan manusia diciptakan memang untuk memilih, dan setiap pilihan pasti ada konsekwensi bisa konsekwensi baik atau buruk.

Kata “memilih” menjadi dinamika kehidupan manusia, manusia menjadi berkembang dan semakin beradab, tanpa melihat dari mana asal manusia itu, bagaimana warna kulit manusia itu, keturunan siapa dan lain sebagainya. Menarik untuk disimak karena “memilih” manusia menjadi butuh dan karena butuh manusia bisa mencipta dan berkarya. Karyanya menjadi simbol peradaban dan kejayaan, dan kejayaanya menjadi kekuasaan. Sampai pada bencana manusia menyatakan diri sebagai “TUHAN”, “Akulah tuhan yang menentukan baik dan buruk, yang menentukan hidup dan mati orang, akulah tuhan yang memberikan kekayaan atau kemelaratan”.

Tidak sadar alam semesta siapa yang menciptakan, tidak sadar bahwa selain bumi ada bumi lain di sekitar jagad alam, tidak sadar bumi tempat berpijak adalah bagian kecil dari sebuah galaksi bimasakti yang masih kecil dibandingkan galaksi lain. Manusia sombong, sombong dengan keangkuhannya, sombong dengan kekuasaannya, sombong dengan hartanya, sombong dengan jabatannya. Tidak ingat bahwa setiap makhluk pasti mati, tidak ingat bahwa apa yang diperbuat akan dimintai pertanggungjawaban.

 

Ketapang, 3 Agustus 2008

ANAM ALKABATY